Industri Manufaktur di Indonesia BKPM Berpeluang Raih Kesempatan Ke-2

Industri Manufaktur di Indonesia BKPM Berpeluang Raih Kesempatan Ke-2

Sektor industri manufaktur di Indonesia BKPM kini mempunyai peluang untuk meraih kesempatan yang kedua. Hal ini disampaikan secara resmi oleh Kepala Wakil Bank Dunia Indonesia, Chaves Rodrigo dalam paket rekomendasi kebijakan pertumbuahn industri manufaktur Indonesia. BKPM kembali menyebutkan bahwa komsumsi domestik kini semakin meningkat tajam pada periode terakhir, sementara pada sektor investasi juga menunjukkan jika laju pertumbuhan pada sektor industri juga semakin cepat. Bahkan investor asing juga mulai melirik Indonesia karena para investor asing tersebut menganggap bahwa potensi sektor manufaktur Indonesia kelas menengah begitu besar dan gaji para buruhnya relatif kompetitif. Oleh karena inilah banyak sekali investor asing ingin memasuki sektor manufaktur di Indonesia.

Industri Manufaktur di Indonesia BKPM Berpeluang Raih Kesempatan Ke-2

Meningkatnya perkembangan dan pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia BKPM merupakan hasil permintaan dari domestik, terutama sektor bahan kimia, makanan, suku cadang otomotif dan logam. Permintaan industri domestik seolah tak terpengaruh terhadap krisis perekonomian global dan kini tumbuh sekitar 6,4% diparuh pertama 2016 berkat adanya konsumsi dan investasi. Dalam waktu bersamaan, investasi asing dalam sektor manufaktur juga semakin tumbuh cepat. Menurut BKPM, investasi asing untuk sektor manufaktur triwulan-II 2016 mencapai hingga 1,2 milyar dollar atau naik sekitar 62% tiap tahunnya. Untuk itu, kenaikan gaji buruh di Republik Rakyat China diperkirakan membuat perusahaan pakaian, tekstil maupun sepatu akan berpindah operasinya menuju Indonesia. Bahkan industri otomotif di Indonesia juga bakalan meraih keuntungan lebih karena semakin banyaknya jumlah perusahaan otomotif di Jepang yang berencana memperlebar jaringan pemasoknya.  

Semenjak krisis keuangan di Asia, memang sejumlah problem mikro sangat melemahkan tumbuh kembangnya sektor manufaktur di negara Indonesia dan membuat daya saing dikawasan semakin turun. Diantaranya seperti naiknya gaji buruh, apresiasi rupiah, adanya pergeseran yang fokus terhadap perdagangan komoditas maupun sektor-sektor yang berbasis SDA, persaingan tingkat internasional terutama dari Republik Rakyat China dan ketatnya margin profit. Pertumbuhan produktivitas memang tak sekuat negara-negara besar yang menjadi pesaingnya. Dengan demikian permasalahan ini sangat menyulitkan para pengusaha baru untuk bangun usaha dan sekaligus mempersulit players lama untuk membuat ekspansi serta pencapaian skala ekonomi yang besar.

Leave a Reply